Aku terbangun dari tidurku tentunya
bukan tanpa sebab dan mengapa. Menjadikan diri yang mungkin dapat menjadi lebih
baik dari sekarang. Ya, hari itu tepatnya hari pertama sekolahku di sekolah
yang sebenarnya aku tak mau untuk berada disitu, entah mengapa terjadi. Ya,
tentunya bukan tanpa sebab dan mengapa.
Sudah jam pelajaran yang ke tiga, tak ada guru. Aku seolah-olah tak bergerak ditempat dudukku, walaupun sebelahku memang ada seorang gadis yang tak aku kenal. Aku hanya tahu namanya saat guru memanggilnya keluar kelas. Aku benar-benar tak peduli. Benar–benar membosankan hingga bel istirahat pun berbunyi. Aku termenung duduk dan aku sadar aku melamun, kau tahu mengapa ? yah, seseorang menegurku dengan menepukkan tangannya kepundakku agak keras tentunya. “ hey ! , kau ingin coba ? ” sedikit shock dan aku mencoba untuk bersikap wajar. “ tidak ”, kataku. Kau pasti bertanya mengapa aku hanya menjawab “ tidak ”. ya karena waktu itu memang begitu ceritanya. Beberapa saat setelah orang tadi menepukku aku tetap tak menoleh kearahnya, terasa ada yang aneh bagiku dan... . Well... aku menatap kearahnya dan... “ Jacob ! , hey...”, kataku. Dia juga terkejut . Jacob adalah teman sekolah lamaku. Tidak kusangka dapat bertemu dengannya.
Sudah jam pelajaran yang ke tiga, tak ada guru. Aku seolah-olah tak bergerak ditempat dudukku, walaupun sebelahku memang ada seorang gadis yang tak aku kenal. Aku hanya tahu namanya saat guru memanggilnya keluar kelas. Aku benar-benar tak peduli. Benar–benar membosankan hingga bel istirahat pun berbunyi. Aku termenung duduk dan aku sadar aku melamun, kau tahu mengapa ? yah, seseorang menegurku dengan menepukkan tangannya kepundakku agak keras tentunya. “ hey ! , kau ingin coba ? ” sedikit shock dan aku mencoba untuk bersikap wajar. “ tidak ”, kataku. Kau pasti bertanya mengapa aku hanya menjawab “ tidak ”. ya karena waktu itu memang begitu ceritanya. Beberapa saat setelah orang tadi menepukku aku tetap tak menoleh kearahnya, terasa ada yang aneh bagiku dan... . Well... aku menatap kearahnya dan... “ Jacob ! , hey...”, kataku. Dia juga terkejut . Jacob adalah teman sekolah lamaku. Tidak kusangka dapat bertemu dengannya.
“ Julian, kamu sekolah disini ?, keren!.
Bagaimana bisa aku bertemu kau di kota sebesar ini ? Jakarta...” katanya yang
tadinya dia pikir siapa aku. Oh ya, aku pindah ke Jakarta ikut papaku. Yah, Dia
pindah kerja ke Jakarta.
Dan
Jacob ? Dia memang orang Jakarta, tapi SMP Dia tinggal bersama bibinya di Pontianak.
Aku dan Jacob berbincang cukup lama, yah sampai kami berdua menghabiskan satu bungkus keripik singkong.
Kau tahu keripik singkong Mak Icih ? yah, memang itu yang Aku dan Jacob makan.
Level 10.
Aku
merasa senang, karena aku bisa dibilang tidak bosan disekolah. Yah, hanya
sedang tidak berada dikelas aku rasa. Tapi dikelas tidak. Masih sama seperti
saat pertama aku masuk sekolah. Membosankan.
Jacob
mengatakan kepadaku, bahwa dia punya banyak teman disekolah ini. Mungkin karena
didaerahnya, atau tepatnya sekitar rumahnya banyak anak seumuran dengannya. Dan
otomatis mereka bersekolah disekolah ini. Karena sekolahku ini satu-satunya
sekolah didaerah ini.
****
Aku
dan Jacob mampir dirumah Carla, temannya Jacob.
“ ...cantik... ” , bisikku kepada Jacob. Jacob memandang kearah ku. Bukan mau memarahi atau tersenyum. Tetapi menyuruhku diam. Sementara Carla sedang dipanggil perempuan yang aku bilang cantik tadi dikamarnya, apakah Carla lagi bersolek atau apa. Kami tidak tahu. Aku rasa perempun itu umurnya sekitar dua puluh lima atau lebih. Sedikit. Jacob menceritakan kepadaku bagaimana dia bisa bertemu dan kenal kepada Carla. Yah, sebelum Carla datang menghampiri kami.
“ ...cantik... ” , bisikku kepada Jacob. Jacob memandang kearah ku. Bukan mau memarahi atau tersenyum. Tetapi menyuruhku diam. Sementara Carla sedang dipanggil perempuan yang aku bilang cantik tadi dikamarnya, apakah Carla lagi bersolek atau apa. Kami tidak tahu. Aku rasa perempun itu umurnya sekitar dua puluh lima atau lebih. Sedikit. Jacob menceritakan kepadaku bagaimana dia bisa bertemu dan kenal kepada Carla. Yah, sebelum Carla datang menghampiri kami.
Cerita bermula dua minggu yang lalu.
Ketika itu Jacob sedang berada di shrimpcracks,
sebuah restoran dekat rumah Jacob. Sebelum dia melanjutkan ceritanya, aku
memotong, “ apakah kau ken...”.dia juga memotong pembicaranku “ dengarkan aku,
kamu tidak ingin mendengar ceritaku ?”. akhirnya aku menyerah, dan berusaha
mendengarkan ceritanya. Ternyata Dia bukan bermaksud untuk kencan dengan
seseorang ataupun mengundang untuk party
dan lain sebagainya, tapi memang ingin mencoba menu baru. Lobster . Tempat itu selalu ramai dikunjungi bahkan bukan hari
libur sekalipun. Di dekat Jacob seorang gadis mencari tempat duduk. Sendirian
?. Pikir Jacob. Agak malu-malu Jacob menanyakan namanya. Dialah Carla. Yah ,
kurang lebih ceritanya seperti itu.
“ Jacob
!, Ibu-nya ? ”,
“ meninggal ”,
“ sendirian ? ”,
“ tantenya ”.
Aku tahu Jacob menyukai
Carla. Tapi... kau tahu. Hal yang sama yang kurasakan. Pandangan pertama aku
rasa. Aku berusaha diam terhadap Jacob dan tidak memberitahukan perasaanku ini
kepada Jacob. Aku merasa iri dengan
Jacob. Dia kelihatan sangat akrab dangan Carla, walaupun aku tahu bahwa Jacob
mengenalnya lebih lama dibanding aku, sedangkan aku, baru... yah, bisa dibilang
aroma perfume nya Carla saja masih bisa
aku hirup. Jealous .
****
Hari yang aneh, sekolah
kembali menyuguhkan aroma membosankan . Tanpa warna, abu-abu sekali. Sangat.
Mungkin hanya dengan kata itu yang bisa ku ungkapkan. Sebenarnya ada hal yang
ingin kulakukan. Yah , mendapatkan Carla. Apa aku salah ? salahkah aku bila aku
menyukai seseorang yang mungkin menyayangi orang yang menyukainya ? Jacob. Yah,
sudah tiga hari aku tidak bertemu dengannya dan aku memang sengaja menghindar
darinya. Dan dia juga sepertinya. Aku rasa dia tau perasaanku.
“ Carla bisakah kita
bertemu ? di Jam smith.”. aku
menunggu Carla cukup lama. Aku menanyakan kepada Carla tentang hubungan mereka.
Dan Carla memulai
pembicaraan “ ...kau sudah tau... ”. Aku
terkejut. Dia menjelaskan kepadaku. Oh ya... kau tahu ? aku belum menceritakan
kepadamu mengapa aku dan Jacob menjadi dingin. Yah, tepatnya keesokan hari setelah
aku dan Jacob pergi kerumah Carla. Waktu kami pamit pulang aku bersama Jacob,
aku sengaja untuk tidak berbarengan dengannya. Tapi aku kembai lagi Kerumah
Carla dan berbincang dengan Carla. Karna itulah aku tahu nomor teleponnya.
Tanpa aku ketahui, ternyata Jacob tahu kalau aku menusuknya dari belakang.
Musuh dalam selimut, seperti itu yang bisa ku katakan. Aku diberi tahu oleh
Carla kalau Jacob melihat kami berduaan.
Setelah Carla
menceritakan kapadaku, aku sadar bahwa aku salah. Tapi aku terpukul. Sangat .
Bagaimana mungkin Carla dan Jacob sudah berpacaran. Bahkan aku yang sering
bersama Jacob tidak tahu tentang hal itu. Mustahil.
****
Sudah dua hari aku tidak
sekolah. Juga tidak berhubungan dengan orang lain, kecuali ibuku dan orang yang
ada dirumahku. Aku sebenarnya masih marah kepada Jacob. Dan malu tentunya. Pagi
itu aku memberanikan diri berangkat kesekolah.
“ sudah kukatakan itu
mustahil !!”, pagi itu kelas terasa panas. Yah, aku dan Jacob berkelahi. Entah ‘setan’
apa yang merasuki ku waktu itu. Memalukan sekali. Jacob mengatakan kepadaku
bahwa aku jahat. Seperti yang aku bilang sebelumnya. Salahkah aku mencintai
Carla ? aku bahkan tidak tau kalau sebelumnya Jacob dan Carla sudah berpacaran.
Aku melihat Carla
kesekolahku. Aku ingin menyapa, tapi dari kejauhan Jacob sudah duluan menghampiri.
Dan... aku membanting tasku dan pulang. Di atas motorpun aku terus kepikiran
tentang Jacob dan Carla. Tapi aku mulai berpikir, kali ini juga bukan tanpa
sebab dan mengapa. Yah, aku berpikir, mengapa hanya gara-gara seorang gadis,
aku dan Jacob menghancurkan tali persahabatan kami.
Keesokan harinya,
pagi-pagi sekali aku kesekolah. Dingin tentunya, dan hujan. Aku duduk
dibangkuku. Dan... tiba-tiba Jacob memelukku dan meminta maaf.Dia akan pindah
kebandung empat hari lagi. Dia merasa bersalah kepadaku.
“ tidak Jacob, aku yang harusnya minta
maaf kepadamu. Aku tidak akan mengulangi kesalahnku lagi. Maafkan aku Jacob,
gara-gara keegoisanku, aku... aku losecontrol
”.
Pagi hari itu suasana
haru tidak hanya dikelas. Tapi luar kelas, gurupun ada yang melihat.
Ketika aku merasa hidupku mulai bewarna,
selalu ada abu-abu yang datang. Yah, Jacob pindah. Dan dia pergi. Benar-benar
pergi.
“
kriiiiiing...”, handphone ku
berbunyi. “ woi! Apa kabar kamu ? ”
Tiba-tiba Jacob menelpon. Aku
benar-benar terkejut. Senang tentunya. Aku berbicara dengannya sangat lama,
hingga Carla bosan dan memesan air putih.
“shrimpcracks
akan tutup” katanya.
Setiap kali Jacob
menelponku aku pasti membicarakan lobster
dan Carla
Tentunya. Aku bahagia
bersama Carla dan Jacob sepertinya lebih dewasa dibandingkan aku. Dia mengalah
karena aku. Aku lebih senang jika bersama orang-orang terdekatku tanpa harus
ada sikap tertutup dan emosi tentunya.
selesai
BAGUS BANGET
BalasHapus